Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya
sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir
menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara
yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun
putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap
pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-
sungguh saling mencintai.
Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang,
aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana
memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah
tersebut. "Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita
sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana
merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama
lebih bahagia....."
Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya
yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika
pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut
untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk
berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka
masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap
mendiskusikannya. "Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri. Ia
lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3
halaman. Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia
sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai
mengalir. "Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya. "Oh tidak,
lanjutkan..." jawab suaminya.
Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu
kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan
bahagia "Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".
Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun
di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak
ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik
bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang.... "
Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta
serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya... Ia
menunduk dan menangis.....
Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan
sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan
hal-hal tersebut.
Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.
Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk,
mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal
yang indah di sekeliling kita ? Saya percaya kita akan menjadi orang
yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal
yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.
Sumber: Diterjemahkan dari tulisan : Trevor Klein
Minggu, 15 Maret 2009
Berilah kasih sayang
Seorang gadis bernama Li-Li menikah dan tinggal bersama suami dan ibu
mertua. Dalam waktu singkat, Li-Li menyadari bahwa ia tidak dapat
cocok dengan suaminya dalam segala hal. Kepribadian mereka
berbeda, dan Li-Li sangat marah dengan banyak kebiasaan suami.
Li-Li juga dikritik terus-menerus. Hari demi hari, minggu demi minggu,
Li-Li dan suaminya tidak pernah berhenti konflik dan bertengkar.
Keadaan jadi tambah buruk, karena berdasarkan tradisi Cina, Li-Li harus
taat
kepada setiap permintaan sang suami .
Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suaminya itu
ada dalam stress yang besar.
Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi
suaminya, dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Li-Li pergi menemui teman baik ayahnya, Mr. Huang, yang menjual jamu.
Li-Li menceritakan apa yang dialaminya dan meminta kalau-kalau Mr.Huang
dapat memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya selesai.
Mr. Huang berpikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, Li-Li,
saya akan menolong, tapi kamu harus mendengarkan dan melakukan semua
yang saya minta.
Li-Li menjawab, "Baik, saya akan melakukan apa saja yang anda minta."
Mr. Huang masuk kedalam ruangan dan kembali beberapa menit kemudian
dengan sekantong jamu.
Dia memberitahu Li-Li, "Kamu tidak boleh menggunakan racun yang bereaksi
cepat untuk menyingkirkan suamimu, karena nanti orang-orang akan curiga.
Karena itu saya memberimu sejumlah jamu yang secara perlahan akan
meracuni tubuh suamimu. Setiap hari masakkan rendang atau ayam dan
kemudian campurkan sedikit jamu ini. Nah, untuk memastikan bahwa tidak
ada orang yang mencurigaimu pada waktu ia meninggal, kamu harus
berhati-hati dan bertindak dangan sangat baik dan bersahabat. Jangan
berdebat dengannya, taati dia, dan perlakukan dia seperti seorang raja."
Li-Li sangat senang. Dia kembali ke rumah dan memulai rencana pembunuhan
terhadap sang suami.
Minggu demi minggu berlalu, dan berbulan-bulan berlalu, dan setiap hari,
Lili melayani suami dengan masakan yang dibuat secara khusus. Li-Li
ingat apa yang dikatakan Mr. Huang tentang menghindari kecurigaan, jadi
Li-Li mengendalikan emosinya, mentaati suami, memperlakukan suaminya
seperti ibu-nya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.
Setelah enam bulan, seluruh rumah berubah. Li-Li telah belajar
mengendalikan emosi-nya begitu rupa sehingga hampir-hampir ia tidak
pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan. Dia tidak berdebat
sekalipun dengan suaminya, yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan
mudah ditemani.
Sikap sang suami terhadap Li-Li berubah, dan dia mulai menyayangi Li-Li
dengan tulus dan ikhlas. Dia terus memberitahu teman-teman dan
kenalannya bahwa Li-Li adalah istri terbaik yang pernah ditemuinya.Li-Li
dan suaminya sekarang semakin romantis dalam keluarga besar mereka
Suami Li-Li sangat senang melihat apa yang telah terjadi.
Satu hari, Li-Li datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi.
Dia berkata, "Mr. Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu
membunuh suami saya. Dia telah berubah menjadi suami yang sangat baik
dan saya mengasihinya dan semakin mencintainya. Saya tidak ingin dia
mati karena racun yang saya berikan."
Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. "Li-Li, tidak usah
khawatir. Saya tidak pernah memberimu racun. Jamu yang saya berikan dulu
adalah vitamin untuk meningkatkan kesehatannya. Satu-satunya racun yang
pernah ada ialah didalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semua
sudah lenyap oleh kasih yang engkau berikan padanya."
Pepatah China berkata: Orang yang mengasihi orang lain akan dikasi
mertua. Dalam waktu singkat, Li-Li menyadari bahwa ia tidak dapat
cocok dengan suaminya dalam segala hal. Kepribadian mereka
berbeda, dan Li-Li sangat marah dengan banyak kebiasaan suami.
Li-Li juga dikritik terus-menerus. Hari demi hari, minggu demi minggu,
Li-Li dan suaminya tidak pernah berhenti konflik dan bertengkar.
Keadaan jadi tambah buruk, karena berdasarkan tradisi Cina, Li-Li harus
taat
kepada setiap permintaan sang suami .
Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suaminya itu
ada dalam stress yang besar.
Akhirnya, Li-Li tidak tahan lagi dengan temperamen buruk dan dominasi
suaminya, dan dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Li-Li pergi menemui teman baik ayahnya, Mr. Huang, yang menjual jamu.
Li-Li menceritakan apa yang dialaminya dan meminta kalau-kalau Mr.Huang
dapat memberinya sejumlah racun supaya semua kesulitannya selesai.
Mr. Huang berpikir sejenak dan tersenyum dan akhirnya berkata, Li-Li,
saya akan menolong, tapi kamu harus mendengarkan dan melakukan semua
yang saya minta.
Li-Li menjawab, "Baik, saya akan melakukan apa saja yang anda minta."
Mr. Huang masuk kedalam ruangan dan kembali beberapa menit kemudian
dengan sekantong jamu.
Dia memberitahu Li-Li, "Kamu tidak boleh menggunakan racun yang bereaksi
cepat untuk menyingkirkan suamimu, karena nanti orang-orang akan curiga.
Karena itu saya memberimu sejumlah jamu yang secara perlahan akan
meracuni tubuh suamimu. Setiap hari masakkan rendang atau ayam dan
kemudian campurkan sedikit jamu ini. Nah, untuk memastikan bahwa tidak
ada orang yang mencurigaimu pada waktu ia meninggal, kamu harus
berhati-hati dan bertindak dangan sangat baik dan bersahabat. Jangan
berdebat dengannya, taati dia, dan perlakukan dia seperti seorang raja."
Li-Li sangat senang. Dia kembali ke rumah dan memulai rencana pembunuhan
terhadap sang suami.
Minggu demi minggu berlalu, dan berbulan-bulan berlalu, dan setiap hari,
Lili melayani suami dengan masakan yang dibuat secara khusus. Li-Li
ingat apa yang dikatakan Mr. Huang tentang menghindari kecurigaan, jadi
Li-Li mengendalikan emosinya, mentaati suami, memperlakukan suaminya
seperti ibu-nya sendiri dengan sangat baik dan bersahabat.
Setelah enam bulan, seluruh rumah berubah. Li-Li telah belajar
mengendalikan emosi-nya begitu rupa sehingga hampir-hampir ia tidak
pernah meledak dalam amarah atau kekecewaan. Dia tidak berdebat
sekalipun dengan suaminya, yang sekarang kelihatan jauh lebih baik dan
mudah ditemani.
Sikap sang suami terhadap Li-Li berubah, dan dia mulai menyayangi Li-Li
dengan tulus dan ikhlas. Dia terus memberitahu teman-teman dan
kenalannya bahwa Li-Li adalah istri terbaik yang pernah ditemuinya.Li-Li
dan suaminya sekarang semakin romantis dalam keluarga besar mereka
Suami Li-Li sangat senang melihat apa yang telah terjadi.
Satu hari, Li-Li datang menemui Mr. Huang dan minta pertolongan lagi.
Dia berkata, "Mr. Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun itu
membunuh suami saya. Dia telah berubah menjadi suami yang sangat baik
dan saya mengasihinya dan semakin mencintainya. Saya tidak ingin dia
mati karena racun yang saya berikan."
Mr. Huang tersenyum dan mengangkat kepalanya. "Li-Li, tidak usah
khawatir. Saya tidak pernah memberimu racun. Jamu yang saya berikan dulu
adalah vitamin untuk meningkatkan kesehatannya. Satu-satunya racun yang
pernah ada ialah didalam pikiran dan sikapmu terhadapnya, tapi semua
sudah lenyap oleh kasih yang engkau berikan padanya."
Pepatah China berkata: Orang yang mengasihi orang lain akan dikasi
Sabtu, 14 Maret 2009
Kisah pelayan hotel
Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan
istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba
menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk
mendapatkan tempat bermalam.
"Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?" tanya sang suami.
Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada
pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota.
"Semua kamar kami telah penuh," pelayan berkata. "Tapi saya tidak dapat
mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul
satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya ? Tidak
terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam
ini."
Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk.
"Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik- baik saja," kata sang
pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan
dibayar, laki- laki tua itu berkata kepada sang pelayan,
"Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik
hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah
hotel untuk anda."
Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.
Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa
pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan
sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang
mudah.
Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia
menerima surat dari laki-laki tua tersebut.
Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai
dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang
mengunjungi pasangan tua tersebut.
Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke
sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang
megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang
menjulang ke langit "Itu," kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru
saja saya bangun untuk engkau kelola".
"Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda.
"Saya jamin, saya tidak," kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum
lebar.
Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur
bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.
Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C.
Boldt.
Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia
untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di
dunia.
istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia. Mencoba
menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk
mendapatkan tempat bermalam.
"Dapatkah anda memberi kami sebuah kamar disini ?" tanya sang suami.
Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada
pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota.
"Semua kamar kami telah penuh," pelayan berkata. "Tapi saya tidak dapat
mengirim pasangan yang baik seperti anda keluar kehujanan pada pukul
satu dini hari. Mungkin anda mau tidur di ruangan milik saya ? Tidak
terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat anda tidur dengan nyaman malam
ini."
Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk.
"Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik- baik saja," kata sang
pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju. Ketika pagi hari saat tagihan
dibayar, laki- laki tua itu berkata kepada sang pelayan,
"Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik
hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah
hotel untuk anda."
Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.
Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa
pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan
sesorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang
mudah.
Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia
menerima surat dari laki-laki tua tersebut.
Surat tersebut mengingatkannya pada malam hujan badai dan disertai
dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang
mengunjungi pasangan tua tersebut.
Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke
sudut Fifth Avenue and 34th Street. Dia menunjuk sebuah gedung baru yang
megah di sana, sebuah istana dengan batu kemerahan, dengan menara yang
menjulang ke langit "Itu," kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru
saja saya bangun untuk engkau kelola".
"Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda.
"Saya jamin, saya tidak," kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum
lebar.
Nama laki-laki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur
bangunan megah tersebut adalah bentuk asli dari Waldorf-Astoria Hotel.
Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C.
Boldt.
Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia
untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di
dunia.
Berhasil dan gagal
Rani sangat tidak puas ketika bulan ini Andi kembali
menjadi juara
pertama lagi. Masalahnya dulu mereka diterima bekerja
di bagian
penjualan bersama-sama. Mereka telah bekerja selama
tujuh bulan.
Tapi sejak empat bulan yang lalu prestasi Andi
tiba-tiba meningkat.
Kini Andi telah empat bulan berturut-turut menjadi
juara karena
hasil penjualannya paling tinggi. Sungguh, Rani sangat
kesal.
Motivasinya menurun karena merasa tak mungkin
mengalahkan Andi.
Untuk apa bersusah payah menjual kalau selalu Andi
yang menang? Ia
kehilangan harapan. Ia merasa apapun yang dilakukannya
pasti gagal.
Iman juga merasa kesal melihat Andi menang terus. Ia
merasa gagal.
Iman lalu mencari apa penyebab keberhasilan Andi. Ia
ingin
mempelajarinya. Ternyata Andi bisa menelepon minimal
dua puluh tujuh
orang perhari, sedangkan Iman hanya sempat menelepon
dua belas
orang. Catatan data pelanggan yang dimiliki Andi
sangat lengkap.
Andi tahu kapan si A pulang dari luar negeri, kapan si
B tiba di
kantor, dan sebagainya.
Andi selalu siap membantu setiap calon pelanggan
meskipun mereka
terkadang merepotkan. Rupanya Andi sangat serius dalam
bekerja. Ia
tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Dari hasil
analisanya, Iman
mencoba memperbaiki dirinya dalam bekerja. Pelan tapi
pasti,
prestasi Iman mulai menunjukkan peningkatan. Iman
memperoleh hasil
dari usahanya.
Deffi yang bekerja di perusahaan lain juga memiliki
prestasi
penjualan yang bagus. Ia hampir selalu mencapai hasil
tertinggi
setiap bulan.
Anehnya rekan-rekan kerjanya kurang menyukainya.
Selidik punya
selidik, rupanya mereka melihat atasannya sangat
menyukai Deffi.
Jelas dong, hasil penjualannya paling tinggi. Tapi
semua rekan
kerjanya menjadi iri hati. Ketika Deffi akan diangkat
menjadi
supervisor, hampir semua orang menentang. Alasannya
karena mereka
tidak menyukai Deffi. Tapi untunglah atasannya cukup
bijaksana, ia
tetap mempromosikan Deffi, tapi ia juga menasehati
Deffi untuk
membagikan ilmunya pada yang lain. Deffi dengan senang
hati
membagikan semua yang diketahuinya.
Hasil perjuangan
Setahun kemudian, Deffi dan rekan-rekannya menjadi tim
penjualan
yang paling berprestasi di perusahaan.
Sayangnya Rani tidak dapat memetik manfaat dari
keberhasilan Andi.
Ia lupa bahwa keberhasilan Andi yang gemilang dibangun
dari
perjuangannya tiap hari yang tidak selalu mulus.
Kadang-kadang
gagal, kadang-kadang berhasil, kadang-kadang kesal,
kadang-kadang
gembira. Bagi Andi, itulah hidup. Yang penting baginya
adalah tidak
pernah berhenti belajar, baik dari keberhasilan maupun
dari
kegagalan.
Paul Galvin, pendiri Motorola, pernah mengatakan: "
Jangan takut
terhadap kesalahan. Kebijaksanaan biasanya lahir dari
kesalahan".
Rani lupa bahwa semua manusia pasti pernah melakukan
kesalahan dan
mengalami kegagalan. Begitu juga Andi dan Iman.
Bedanya hanyalah,
Andi dan Iman memanfaatkan kesalahan dan kegagalan itu
untuk belajar
menjadi lebih baik, sedangkan Rani malah iri, kesal
pada diri
sendiri dan berhenti berusaha.
Ketika Elvis Presley mengadakan show Opry pertamanya
pada 1954, Jim
Denny, manajer Grand Ole Opry berkata padanya: "Kamu
takkan berhasil
menjadi penyanyi...Kamu harus kembali menjadi sopir
truk!" Apa yang
sebenarnya terjadi pada waktu itu? Jim Denny bukan
orang bodoh. Ia
manajer Grand Ole Opry. Ia berpengalaman. Ia ahli di
bidang musik.
Tak mungkin ia salah menilai orang hingga separah itu.
Kemungkinan besar yang terjadi adalah penampilan Elvis
Presley
memang buruk pada waktu itu. Untunglah Elvis tidak
putus asa. Ia
terus berusaha untuk maju. Ia mencapai sukses bukan
karena
kebetulan, tapi karena ia terus berusaha menjadi lebih
baik.
Harris ingin menjadi pemain tenis yang hebat seperti
para idolanya.
Setiap kali melakukan kesalahan, ia mengatakan pada
dirinya bahwa
hal yang sama pasti telah dialami juga oleh para
bintang pemain
tenis. Tak ada manusia yang sempurna. Tidak ada orang
yang tidak
pernah gagal.
Dari setiap kesalahan pukulan, kesalahan langkah, dan
sebagainya,
lahirlah pengalaman yang sangat berharga. Mereka
belajar dari
kesalahan. Dari bulan ke bulan permainan Harris makin
sempurna. Tak
lama lagi ia akan maju ke tingkat Kabupaten.
Noni berjualan aksesoris rambut di sebuah plaza.
Ketika ia mulai
berjualan, ia memasang tulisan "Jepit Rambut. Rp10.000
dapat 7".
Selama beberapa hari tulisan itu dipasang tapi tak ada
orang yang
tertarik untuk membelinya. Memasuki minggu ketiga ia
mulai
menganalisa apa yang harus dilakukannya. Ia kemudian
mengganti
tulisan itu menjadi "Jepit Rambut. Rp10.000 dapat 3".
Betul! Segera
ia memperoleh banyak pembeli.
Rupanya orang kurang tertarik mendapat tujuh jepit
rambut karena
terasa terlalu banyak. Untuk apa membeli tujuh buah
jepit rambut?
Tapi untuk membeli tiga buah jepit rambut, rupanya
banyak orang
merasa masih mau.
Noni belajar dari kesalahan dan kegagalannya sendiri.
Iman belajar
dari kegagalannya sendiri dan keberhasilan orang lain.
Keduanya
memanfaatkan kesalahan dan kegagalan untuk mencapai
keberhasilan.
Never stop learning! You will succeed!
menjadi juara
pertama lagi. Masalahnya dulu mereka diterima bekerja
di bagian
penjualan bersama-sama. Mereka telah bekerja selama
tujuh bulan.
Tapi sejak empat bulan yang lalu prestasi Andi
tiba-tiba meningkat.
Kini Andi telah empat bulan berturut-turut menjadi
juara karena
hasil penjualannya paling tinggi. Sungguh, Rani sangat
kesal.
Motivasinya menurun karena merasa tak mungkin
mengalahkan Andi.
Untuk apa bersusah payah menjual kalau selalu Andi
yang menang? Ia
kehilangan harapan. Ia merasa apapun yang dilakukannya
pasti gagal.
Iman juga merasa kesal melihat Andi menang terus. Ia
merasa gagal.
Iman lalu mencari apa penyebab keberhasilan Andi. Ia
ingin
mempelajarinya. Ternyata Andi bisa menelepon minimal
dua puluh tujuh
orang perhari, sedangkan Iman hanya sempat menelepon
dua belas
orang. Catatan data pelanggan yang dimiliki Andi
sangat lengkap.
Andi tahu kapan si A pulang dari luar negeri, kapan si
B tiba di
kantor, dan sebagainya.
Andi selalu siap membantu setiap calon pelanggan
meskipun mereka
terkadang merepotkan. Rupanya Andi sangat serius dalam
bekerja. Ia
tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Dari hasil
analisanya, Iman
mencoba memperbaiki dirinya dalam bekerja. Pelan tapi
pasti,
prestasi Iman mulai menunjukkan peningkatan. Iman
memperoleh hasil
dari usahanya.
Deffi yang bekerja di perusahaan lain juga memiliki
prestasi
penjualan yang bagus. Ia hampir selalu mencapai hasil
tertinggi
setiap bulan.
Anehnya rekan-rekan kerjanya kurang menyukainya.
Selidik punya
selidik, rupanya mereka melihat atasannya sangat
menyukai Deffi.
Jelas dong, hasil penjualannya paling tinggi. Tapi
semua rekan
kerjanya menjadi iri hati. Ketika Deffi akan diangkat
menjadi
supervisor, hampir semua orang menentang. Alasannya
karena mereka
tidak menyukai Deffi. Tapi untunglah atasannya cukup
bijaksana, ia
tetap mempromosikan Deffi, tapi ia juga menasehati
Deffi untuk
membagikan ilmunya pada yang lain. Deffi dengan senang
hati
membagikan semua yang diketahuinya.
Hasil perjuangan
Setahun kemudian, Deffi dan rekan-rekannya menjadi tim
penjualan
yang paling berprestasi di perusahaan.
Sayangnya Rani tidak dapat memetik manfaat dari
keberhasilan Andi.
Ia lupa bahwa keberhasilan Andi yang gemilang dibangun
dari
perjuangannya tiap hari yang tidak selalu mulus.
Kadang-kadang
gagal, kadang-kadang berhasil, kadang-kadang kesal,
kadang-kadang
gembira. Bagi Andi, itulah hidup. Yang penting baginya
adalah tidak
pernah berhenti belajar, baik dari keberhasilan maupun
dari
kegagalan.
Paul Galvin, pendiri Motorola, pernah mengatakan: "
Jangan takut
terhadap kesalahan. Kebijaksanaan biasanya lahir dari
kesalahan".
Rani lupa bahwa semua manusia pasti pernah melakukan
kesalahan dan
mengalami kegagalan. Begitu juga Andi dan Iman.
Bedanya hanyalah,
Andi dan Iman memanfaatkan kesalahan dan kegagalan itu
untuk belajar
menjadi lebih baik, sedangkan Rani malah iri, kesal
pada diri
sendiri dan berhenti berusaha.
Ketika Elvis Presley mengadakan show Opry pertamanya
pada 1954, Jim
Denny, manajer Grand Ole Opry berkata padanya: "Kamu
takkan berhasil
menjadi penyanyi...Kamu harus kembali menjadi sopir
truk!" Apa yang
sebenarnya terjadi pada waktu itu? Jim Denny bukan
orang bodoh. Ia
manajer Grand Ole Opry. Ia berpengalaman. Ia ahli di
bidang musik.
Tak mungkin ia salah menilai orang hingga separah itu.
Kemungkinan besar yang terjadi adalah penampilan Elvis
Presley
memang buruk pada waktu itu. Untunglah Elvis tidak
putus asa. Ia
terus berusaha untuk maju. Ia mencapai sukses bukan
karena
kebetulan, tapi karena ia terus berusaha menjadi lebih
baik.
Harris ingin menjadi pemain tenis yang hebat seperti
para idolanya.
Setiap kali melakukan kesalahan, ia mengatakan pada
dirinya bahwa
hal yang sama pasti telah dialami juga oleh para
bintang pemain
tenis. Tak ada manusia yang sempurna. Tidak ada orang
yang tidak
pernah gagal.
Dari setiap kesalahan pukulan, kesalahan langkah, dan
sebagainya,
lahirlah pengalaman yang sangat berharga. Mereka
belajar dari
kesalahan. Dari bulan ke bulan permainan Harris makin
sempurna. Tak
lama lagi ia akan maju ke tingkat Kabupaten.
Noni berjualan aksesoris rambut di sebuah plaza.
Ketika ia mulai
berjualan, ia memasang tulisan "Jepit Rambut. Rp10.000
dapat 7".
Selama beberapa hari tulisan itu dipasang tapi tak ada
orang yang
tertarik untuk membelinya. Memasuki minggu ketiga ia
mulai
menganalisa apa yang harus dilakukannya. Ia kemudian
mengganti
tulisan itu menjadi "Jepit Rambut. Rp10.000 dapat 3".
Betul! Segera
ia memperoleh banyak pembeli.
Rupanya orang kurang tertarik mendapat tujuh jepit
rambut karena
terasa terlalu banyak. Untuk apa membeli tujuh buah
jepit rambut?
Tapi untuk membeli tiga buah jepit rambut, rupanya
banyak orang
merasa masih mau.
Noni belajar dari kesalahan dan kegagalannya sendiri.
Iman belajar
dari kegagalannya sendiri dan keberhasilan orang lain.
Keduanya
memanfaatkan kesalahan dan kegagalan untuk mencapai
keberhasilan.
Never stop learning! You will succeed!
A glass of Milk
Segelas susu.
Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari
menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa
dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan
dia sangat lapar.
Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan
dari rumah berikutnya.
Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat
seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu
tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta
segelas air.
Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak
lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia
membawakan segelas besar susu.
Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian
bertanya, "Berapa saya harus membayar untuk segelas
besar susu ini?"
Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar
apapun". "Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima
bayaran untuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan.
Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan
berkata:"Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada
anda."
Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami
sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah
tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya
mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter
spesialis yang mampu menangani penyakit langka
tersebut.
Dr. Horward Kelly dipanggil untuk melakukan
pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si
wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada
mata dokter Kelly.
Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall
rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dan
berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu.
Ia langsung mengenali itu pada sekali pandang. Ia
kemudian kembali keruang konsultasi dan memutuskan
untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan
nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan
perhatian khusus pada kasus wanita itu.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya
diperoleh kemenangan....Wanita itu sembuh!!
Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk
mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya
untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan
menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan
kemudian mengirimkannya kekamar pasien.
Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia
sangat yakin bahwa Ia tak akan mampu membayar tagihan
tesebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya.
Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan
tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya
pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca
tulisan yang berbunyi.."Telah dibayar lunas dengan
segelas besar susu!!" tertanda, Dr Horward Kelly.
Air mata kebahagian kehilangan membanjiri matanya. Ia
berdoa: "Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah
memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia."
Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari
menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa
dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan
dia sangat lapar.
Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan
dari rumah berikutnya.
Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat
seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu
tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta
segelas air.
Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak
lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia
membawakan segelas besar susu.
Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian
bertanya, "Berapa saya harus membayar untuk segelas
besar susu ini?"
Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar
apapun". "Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima
bayaran untuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan.
Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan
berkata:"Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada
anda."
Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami
sakit yang sangat kritis. Para dokter dikota itu sudah
tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya
mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter
spesialis yang mampu menangani penyakit langka
tersebut.
Dr. Horward Kelly dipanggil untuk melakukan
pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si
wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada
mata dokter Kelly.
Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall
rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dan
berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu.
Ia langsung mengenali itu pada sekali pandang. Ia
kemudian kembali keruang konsultasi dan memutuskan
untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan
nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan
perhatian khusus pada kasus wanita itu.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya
diperoleh kemenangan....Wanita itu sembuh!!
Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk
mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya
untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan
menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan
kemudian mengirimkannya kekamar pasien.
Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia
sangat yakin bahwa Ia tak akan mampu membayar tagihan
tesebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya.
Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan
tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya
pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca
tulisan yang berbunyi.."Telah dibayar lunas dengan
segelas besar susu!!" tertanda, Dr Horward Kelly.
Air mata kebahagian kehilangan membanjiri matanya. Ia
berdoa: "Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah
memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia."
kisah Rp.1000 VS Rp.100,000..
Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama
tapimengalami nasib yang berbeda.
Keduanya sama-sama dicetak di PERURIdengan bahan dan alat-alat yang oke.
Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus,
berkilau, bersih, harum dan menarik.Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan
seratus ribubertemu kembali di dompet seseorang
dalam kondisi yang berbeda.
Uang seratus ribu berkata pada uang seribu :"Ya, ampiiiuunnnn.
.......... darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu
udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan...... bau!Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI,
kita sama-sama keren kan ..... Ada apa denganmu?"
Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan
perasaannelangsa. Sambil mengenang
perjalanannya, uang seribu berkata :"Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari
PERURI, hanya tigahari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari
berikutnya sayasudah pindah ke
dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur,saya beralih ke kantong plastik tukang ayam.
Plastiknya basah, penuhdengan darah dan taik ayam.
Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar
aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke
kantong tukang nasi uduk, dari sana saya hijrah ke 'baluang' (pren : tau kan
baluang...?) Inang-inang. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya
saya bau, kumal, lusuh,karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas.
......"
Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.: "Wah, sedih sekali
perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak
kita keluar dari PERURI itu, akudisimpan di dompet kulit yang bagus dan harum.
Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm... dompetnya harum
sekali. Setelah dari sana , aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di
hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat
arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di
tempat yangbagus. Jarang deh aku di tempat
yang kamu ceritakan itu. Dan...... aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu.
"
Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya :"Ya. Nasib
kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman.Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang
dan bangga daripada kamu!"
"Apa itu?" uang seratus ribu penasaran.
"Aku sering bertemu teman-temanku di
kotak-kotak amal di mesjid atau ditempat-tempat
ibadah lain.Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku
melihat kamu disana....."
tapimengalami nasib yang berbeda.
Keduanya sama-sama dicetak di PERURIdengan bahan dan alat-alat yang oke.
Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus,
berkilau, bersih, harum dan menarik.Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan
seratus ribubertemu kembali di dompet seseorang
dalam kondisi yang berbeda.
Uang seratus ribu berkata pada uang seribu :"Ya, ampiiiuunnnn.
.......... darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu
udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan...... bau!Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI,
kita sama-sama keren kan ..... Ada apa denganmu?"
Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan
perasaannelangsa. Sambil mengenang
perjalanannya, uang seribu berkata :"Ya, beginilah nasibku , kawan. Sejak kita keluar dari
PERURI, hanya tigahari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari
berikutnya sayasudah pindah ke
dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur,saya beralih ke kantong plastik tukang ayam.
Plastiknya basah, penuhdengan darah dan taik ayam.
Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar
aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke
kantong tukang nasi uduk, dari sana saya hijrah ke 'baluang' (pren : tau kan
baluang...?) Inang-inang. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya
saya bau, kumal, lusuh,karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas.
......"
Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.: "Wah, sedih sekali
perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak
kita keluar dari PERURI itu, akudisimpan di dompet kulit yang bagus dan harum.
Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm... dompetnya harum
sekali. Setelah dari sana , aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di
hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat
arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di
tempat yangbagus. Jarang deh aku di tempat
yang kamu ceritakan itu. Dan...... aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu.
"
Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya :"Ya. Nasib
kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman.Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang
dan bangga daripada kamu!"
"Apa itu?" uang seratus ribu penasaran.
"Aku sering bertemu teman-temanku di
kotak-kotak amal di mesjid atau ditempat-tempat
ibadah lain.Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku
melihat kamu disana....."
Menghidupkan Kehidupan
Ketika Anda dilahirkan, Anda menangis sementara dunia bergembira. Jalanilah hidup sebaik mungkin agar ketika Anda meninggal, dunia menangis sementara Anda bergembira.
Kalimat di atas beberapa kali saya baca di antara buku-buku yang sempat saya baca. Pada awalnya tidak terlalu saya anggap istimewa. Tapi semakin hari, semakin saya menemukan makna dari ungkapan tersebut. Lebih-lebih saat ini kita berada di tengah masyarakat yang hidup dengan melupakan kehidupan.
Kita sering melihat ada orang yang demi memenuhi keinginannya sampai-sampai menghalalkan berbagai cara. Ada orang yang bekerja keras mengumpulkan harta benda dengan alasan demi keluarga, dan ketika hartanya berlimpah ruah, anaknya jadi korban narkoba. Ada orangtua yang bertindak keras pada anak-anaknya dengan alasan kasih sayang, tapi anaknya merasa tersiksa. Ada orang yang begitu terkenal dan jadi pembicaraan orang, tapi keadaan keluarganya kacau balau. Ada orang yang dengan mudahnya mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia, tapi kesulitan menyebrang jalan untuk bertemu dengan tetangganya. Ada orang yang dengan mudahnya bertemu dengan orang-orang penting, tapi kesulitan untuk menepati janji kepada anak-anaknya untuk pergi berenang. Ada orang yang memiliki HP, e-mail, faksimile sehingga tidak pernah kesulitan dalam berkomunikasi, tapi tidak pernah bersentuhan dengan kemanusiaannya.
Seperti itukah arti kehidupan... ?
Sejenak, mari kita bertanya pada diri sendiri: siapa sajakah yang akan menangis ketika kita meningal? Berapa banyakkah orang yang pernah kita sentuh dan merasakan kemanfaatan atas keberadaan kita selama kita hidup di planet ini? Warisan apakah yang akan kita tinggalkan setelah kita menghembuskan napas terakhir? Hal-hal baik apa sajakah yang akan dibicarakan orang tentang kita manakala kita sudah tiada?
Salah satu pelajaran dalam kehidupan adalah bahwa jika Anda tidak mengambil tindakan atas hidup, maka hidup mempunyai kebiasaan untuk mengambil tindakan atas Anda. Cobalah sejenak untuk mengingat kembali, rasanya baru kemarin kita menggunakan seragam SD, SMP dan SMA... Semuanya begitu cepat berlalu, semuanya begitu cepat berakhir... Pertanyaannya: berapa banyakkah pelajaran kehidupan bisa kita ambil dari periode kehidupan tersebut?.
Cobalah tengok seorang tua yang karena keterbatasan fisiknya, waktunya lebih banyak digunakan untuk merenung. Cobalah tanyakan padanya: hal-hal apa sajakah yang dia sesali dalam kehidupannya? . Alternatif jawabannya ada dua, pertama, dia menyesali atas hal-hal yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya, kedua, dia menyesali atas hal-hal yang tidak sempat dia lakukan sepanjang hidupnya. Pertanyaannya: kira-kira alternatif jawaban mana yang kemungkinan besar disampaikannya? .
Suatu waktu, di hari-hari terakhirnya, George Bernard Shaw ditanya di ranjang kematiannya, “Apa yang akan Anda lakukan jika Anda dapat menjalani kehidupan Anda sekali lagi?”. Ia terdiam, kemudian menjawab sambil menarik napas panjang, “Saya ingin menjadi orang yang saya inginkan namun tidak pernah saya wujudkan”.
Anda, tidak perlu menunggu usia tua untuk merenungi dan menjawab pertanyaan tersebut, Temukanlah diri Anda. Temukan panggilan hidup Anda. Ingin seperti apakah Anda menjalani kehidupan ini?. Saya percaya, kita semua memiliki talenta khusus yang menunggu untuk digunakan, menunggu untuk dimanfaatkan, demi untuk memberi makna bagi kehidupan kita masing-masing. ..
Posted by Yusef J. Hilmi (ini nama penulisnya)
Kalimat di atas beberapa kali saya baca di antara buku-buku yang sempat saya baca. Pada awalnya tidak terlalu saya anggap istimewa. Tapi semakin hari, semakin saya menemukan makna dari ungkapan tersebut. Lebih-lebih saat ini kita berada di tengah masyarakat yang hidup dengan melupakan kehidupan.
Kita sering melihat ada orang yang demi memenuhi keinginannya sampai-sampai menghalalkan berbagai cara. Ada orang yang bekerja keras mengumpulkan harta benda dengan alasan demi keluarga, dan ketika hartanya berlimpah ruah, anaknya jadi korban narkoba. Ada orangtua yang bertindak keras pada anak-anaknya dengan alasan kasih sayang, tapi anaknya merasa tersiksa. Ada orang yang begitu terkenal dan jadi pembicaraan orang, tapi keadaan keluarganya kacau balau. Ada orang yang dengan mudahnya mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia, tapi kesulitan menyebrang jalan untuk bertemu dengan tetangganya. Ada orang yang dengan mudahnya bertemu dengan orang-orang penting, tapi kesulitan untuk menepati janji kepada anak-anaknya untuk pergi berenang. Ada orang yang memiliki HP, e-mail, faksimile sehingga tidak pernah kesulitan dalam berkomunikasi, tapi tidak pernah bersentuhan dengan kemanusiaannya.
Seperti itukah arti kehidupan... ?
Sejenak, mari kita bertanya pada diri sendiri: siapa sajakah yang akan menangis ketika kita meningal? Berapa banyakkah orang yang pernah kita sentuh dan merasakan kemanfaatan atas keberadaan kita selama kita hidup di planet ini? Warisan apakah yang akan kita tinggalkan setelah kita menghembuskan napas terakhir? Hal-hal baik apa sajakah yang akan dibicarakan orang tentang kita manakala kita sudah tiada?
Salah satu pelajaran dalam kehidupan adalah bahwa jika Anda tidak mengambil tindakan atas hidup, maka hidup mempunyai kebiasaan untuk mengambil tindakan atas Anda. Cobalah sejenak untuk mengingat kembali, rasanya baru kemarin kita menggunakan seragam SD, SMP dan SMA... Semuanya begitu cepat berlalu, semuanya begitu cepat berakhir... Pertanyaannya: berapa banyakkah pelajaran kehidupan bisa kita ambil dari periode kehidupan tersebut?.
Cobalah tengok seorang tua yang karena keterbatasan fisiknya, waktunya lebih banyak digunakan untuk merenung. Cobalah tanyakan padanya: hal-hal apa sajakah yang dia sesali dalam kehidupannya? . Alternatif jawabannya ada dua, pertama, dia menyesali atas hal-hal yang telah dia lakukan sepanjang hidupnya, kedua, dia menyesali atas hal-hal yang tidak sempat dia lakukan sepanjang hidupnya. Pertanyaannya: kira-kira alternatif jawaban mana yang kemungkinan besar disampaikannya? .
Suatu waktu, di hari-hari terakhirnya, George Bernard Shaw ditanya di ranjang kematiannya, “Apa yang akan Anda lakukan jika Anda dapat menjalani kehidupan Anda sekali lagi?”. Ia terdiam, kemudian menjawab sambil menarik napas panjang, “Saya ingin menjadi orang yang saya inginkan namun tidak pernah saya wujudkan”.
Anda, tidak perlu menunggu usia tua untuk merenungi dan menjawab pertanyaan tersebut, Temukanlah diri Anda. Temukan panggilan hidup Anda. Ingin seperti apakah Anda menjalani kehidupan ini?. Saya percaya, kita semua memiliki talenta khusus yang menunggu untuk digunakan, menunggu untuk dimanfaatkan, demi untuk memberi makna bagi kehidupan kita masing-masing. ..
Posted by Yusef J. Hilmi (ini nama penulisnya)
Langganan:
Komentar (Atom)